Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 28 September 2017

LAGI-LAGI PLAGIASI

Masalah plagiasi kini muncul kembali ke permukaan dan menjadi pembicaraan umum. Plagiasi adalah tindakan menjiplak ide, gagasan, atau karya orang lain untuk diakui sebagai karya sendiri atau menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Dengan tindakan ini dapat menimbulkan asumsi yang salah mengenai asal muasal dari suatu ide, gagasan, atau karya (Soelistyo, 2011: 17).

Plagiasi merupakan kejahatan akademik. Sebab pelaku plagiasi melakukan ketidakjujuran dalam pengutipan atau mengaku karya orang lain sebagai karyanya. Kejahatan akademik ini justru terjadi di kalangan akademik. Salah satu efek plagiasi ini akan menurunkan kredibilitas seseorang dan bisa  mengurangi citra suatu lembaga

Perilaku yang tak terpuji ini terjadi ada kemungkinan disebabkan adanya budaya pintas dalam kehidupan kita, memenuhi angka kredit, pengejaran jabatan setelah lulus (anggota dewan, walikota/bupati, gubernur), dan mengejar tunjangan yang tinggi

Dalam rangka mencegah pelanggaran etika akademik ini, Menteri Pendidikan Nasional RI mengeluarkan Keputusan Nomor: 17 Tahun 2010. Pada pasal 1 ayat 1 peraturan tersebut dijelaskan bahwa   plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memeroleh atau mencoba memeroleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Nah, saking hati-hatinya terhadap plagiasi ini, banyak para ilmuwan yang takut menulis buku dan takut menulis artikel ilmiah

Memang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI tersebut pasal 12 dijelaskan bahwa apabila dosen/peneliti/tenaga kependidikan terbukti melakukan plagiasi, maka akan dikenakan sanksi secara berurutan ;

a). teguran;
b). peringatan tertulis;
c). penundaan pemberian hak dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
d). penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional;
e). pencabutan hak untuk diusulkan sebagai guru besar/profesor/ahli peneliti utama bagi
     yang memenuhi syarat;
f). pemberhentian dengan hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
g). pemberhentian tidak dengan hormat dari status dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
h). pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

Di era keterbukaan ini sudah saatnya kita share informasi ilmiah seperti repositori. Dengan keterbukaan ini akan mudah dan cepat diketahui siapa yang melakukan plagiasi, karya siapa yang diplagiat, kualitas karya akademik, dan siapa yang membimbing karya akademik yang tidak cermat, bahkan asal-asalan. Kemudian untuk mengantisipasi perilaku plagiasi, sebaiknya dicek dulu sebelum disharesecara terbuka/full text. Kini sudah banyak aplikasi deteksi plagiasi. Hal ini tergantung pada kebijakan masing-masing lembaga. Namun yang perlu kita sadari adalah apalah artinya hasil pemikiran, penelitian, dan penemuan yang konon menghabiskan sekian milyar itu kalau hanya menghasilkan kredit dan uang untuk membayar kredit. Dimana letak kemanfaatan karya akademik yang katanya bernilai suma cumlaude itu
Lasa
Perpustakaan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.  

0 komentar:

Posting Komentar