Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 25 September 2017

BEKERJA KERAS MENGGAPAI KESUKSESAN

Setiap orang pasti ingin maju daan berhasil dalam kehidupan mereka. Hari ini diusahakan lebih baik dari kemarin. Besok harus lebih maju dari sekarang. Sedangkan untuk mencapai keberhasilan orang harus bekerja keras, ulet, rajin, dan sabar. Artinya harus berusaha dan tidak malas.
            Kemajuan dan keberhasilan seseorang akan tercapai antara lain karena memahami makna hidup. Hidup adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Anugerah itu harus disyukuri antara lain dengan melakukan dan menghaslkan sesuatu yang positif. Salah satu pilihan untuk menghasilkan yang positif adalah bekerja. Bekerja memiliki banyak makna dan bukan sekedar mencari uang. Bekerja dapat dinilai sebagai bentuk syukur dan ibadah kepada Allah. Sebab dengan melakukan suatu pekerjaan berarti kita memanfaatan potensi diri untuk orang lain.  
Putaran otak, gerakan tangan,dan langkah kaki untuk menggapai kemanfaatan itu sebenarnya merupakan langkah positif meskipun belum menghasilkan. Agama apapun tidak mengajarkan pengikut-pengikutnya untuk bermalas-malasan.Pada umumnya agama-agama dunia menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja. Sebab dengan melakukan pekerjaan atau bekerja akan menaikkan status seseorang dan tidak menjadi beban orang lain.
Suatu ketika Rasulullah Saw kedatangan seorang laki-laki yang mengadukan kefakirannya. Mendengar keluhan itu, lalu Rasulullah Saw memberikan 2 (dua) dirham dan bersabda :”Apakah kamu memiliki sesuatu ?. “Tidak wahai Rasulullah Saw”, jawab orang itu. Lalu orang itu diberi uang sebanyak 2 (dua) dirham lagi oleh Rasulullah Saw dan beliau sambil bersabda:”Terimalah uang ini. Belilah makanan sekedarnya untuk kamu dan keluargamu. Sisanya cobalah belikan kampak. Dengan kampak itu engkau mencari kayu di hutan lalu juallah kayu itu untuk memenuhi kebutuhanmu yang lain “. Setelah 15 (lima belas) hari dari pertemuan itu, lelaki itu sowan kepada Nabi Muhammad Saw dan matur :”Wahai Rasulullah, Alhamdulillah sungguh Allah telah memberikan berkah kepada kami sekeluarga sebagaimana Rasul perintahkan kepada kami. Alhamdulillah kini kami telah mengumpulkan uang sebanyak 10 (sepuluh) dirham dari penjualan kayu yang kami peroleh dari hutan. Uang yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli makanan untuk anak isteri saya, dan yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli pakaian mereka:. Mendengar cerita ini, Rasulullah Saw nampak berkenan lalu bersabda :”Hal itu lebih baik kamu lakukan daripada kamu meminta-minta kepada orang lain”.
Orang-orang yang bekerja dalam bidangnya dengan baik akan memberikan makna dalam kehidupan dan namanya akan dikenang sepanjang masa. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilakukaan dengan tekun dan baik, maka akan memberikan makna tersendiri. Dalam hal ini Martin Luther Jr.pernah mengatakan :” Kalau anda terpanggil menjadi tukang sapu jalan, maka sapulah jalan secara baik seperti Michelangelo melukis atau Bethoven mengubah musik. Bahkan seperti Shakespeare menulis sajak. Sapulah jalan itu sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak untuk mengatakan :”Di sini pernah hidup seorang tukang sapu yang hebat yang sangat baik kerjanya”.
Keberhasilan tidak saja datang dari langit dan tidak otomatis tumbuh dari bumi. Keberuntungan tidak bisa dicari di Gunung Kawi atau menunggu tokek berbunyi. Orang sukses adalah orang yang berusaha, mampu mengatasi kendala, dan memeroleh sesuatu yang diinginkan. Pemalas adalah orang yang enggan bekerja, takut gagal, dan sedikit-sedikit mana uangnya.
Orang yang berusaha adalah orang yang mampu memaknai hidup. Mereka yang malas tidak paham apa itu makna hidup. Bekerja itu merupakan salah satu upaya memberikan makna dalam kehidupan.
Apabila orang memahami bahwa bekerja itu merupakaan makna hidup, maka dia akan merasa bahagia dalam melaksanakan pekerjaan/tugas. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilaksanakan dengan baik dan senang, maka akan mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan.
Untuk memeroleh hasil yang diharapkan, orang harus berani berkompetisi dalam berebut kesempatan secara elegan. Bukan sekedar kasak kusuk, kalau cuma begitu aku pasti lebih baik. Oleh karena itu bangun pagi lalu melakukan aktivitas  merupakan salah satu sikap siap untuk berkompetisi. Sebab bangun siang hari, rizkinya sudah dipatuk ayam.
Berkaitan dengan kompetisi dan berebut kesempatan ini, Rasulllah Saw memerintahkan umatnya untuk bangun pagi. Kemudian segera melakukan shalat fajar sebanyak 2 (dua) rekaat yang tentunya dilanjutkan melakukan shalat shubuh.Berkaitan dengan shalat fajar inilah, beliau menyatakan bahwa kebaikan shalat fajar itu lebih baik daripada dunia seisinya. Artinya dengan shalat fajar itu orang akan bangun pagi lalu melakukan kegiatan yang produktif. Pengertian ini bukan berarti bahwa setelah selesai melaksanakan shalat shubuh lalu tidur lagi yang berarti malas-malasan. Nah, berkaitan dengan bermalas-malas inilah suatu ketika Rasulullah Saw menghampiri putrinya Fatimah yang sedang malas-malasan setelah selesai melaksanakan shalat shubuh.Melihat putrinya yang sedang bermalas-malasan itu, beliau menghampirinya sambil menggoyang-goyang tubuh putrinya itu pelahan dan bersabda :” Wahai putriku, bangunlah dan sambutlah rizki Allah dan jangan lalai. Sebab Allah itu membagi-bagi rizki kepada manusia antara terbit fajar sampai matahari terbit” (H.R. Baihaqi).
Kemalasan akan melahirkan penyesalan. Kemalasan membuat orang enggan beranjak, tangan malas bergerak, kaki berat melangkah, pikiran terbelenggu, dan kemauan beku. Kemalasan membuat hidup menjadi redup, langkah mundur, mata tertidur pulas mendengkur. Sikap inilah yang membuat orang atau komunitas ketinggalan dari yang lain. Untuk itu Rasulullah Saw pernah bersabda :”Beberapa hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa umatku yakni besar perut (serakah, tamak, suka makan), terus menerus tidur, dan lemah keyakinan”. (H.R,Daruquthni). Disamping itu, Rasulullah Saw juga mengajarkan do’a yang tentunya harus disertasi usaha. Do’a itu berbunyi :Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal huzni, wa’audzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa’audzu bika minal jubni wal bukhli wa’audzu bika min ghalabatid daini waqahri rijaali”(artinya, Ya Allah, aku berlindung kepadaMU dari kesusahan dan kegelisahan hati, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan kikir. Dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan orang-orang yang jahat.

Lasa Hs.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

0 komentar:

Posting Komentar