Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 06 Oktober 2017

10 Pustakawan UMY lolos Call Paper Seminar Nasional dan Dialog Ilmiah Perpustakaan

Alhamdulillah, kali ini Perpustakaan UMY mampu memotivasi pustakawannya untuk berkembang dan berani berkompetisi antara lain melalui pemilihan pustakawan berprestasi maupun call paper. Dalam pemilihan pustakawan berpretasi tahun 2017 ini, ada 2 orang pustakawan UMY terpilih sebagai pustakawan berprestasi tingkat DIY. Arda Putri terpilih sebagai pustakawan berprestasi I DIY versi Kopertis V. 

Sedangkan Yuliana Rachmawati terpilih sebagai pustakawan berprestasi DIY versi FPPTI Kemudian dalam call paper Seminar Nasional dan Dialog Perpustakaan (penyelenggara FPPTI DIY & Direktorat Perpustakaan UII) ada 10 orang pustakawan UMY yang lolos dari 36 orang pustakawan yang diterima call papernya. Apabila dihitung dari jumlah makalah, maka ada 6 (enam) makalah pustakawan UMY yang diterima dari 28 makalah yang diterima.

Pengumuman resi lihat di sini


Lasa Hs.

Kamis, 05 Oktober 2017

Motivasi

Artinya:”Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Q.S. Al kahfi: 110)
   
Manusia diciptakan lebih sempurna dari pada makhluk lain. Kesempurnaan ciptaan ini tidak saja pada penciptaan perangkat kasar/hardware seperti tangan, kaki, telinga, mata, dan lainnya.  Kesempurnaan  itu juga pada penciptaan  perangkat lunak/software seperti hati nurani, akal, dan nafsu.
            Dengan perangkat-perangkat itu, manusia bisa menggali potensi diri dan mengembangkannya secara optimal. Dalam hal ini kadang manusia kurang menyadari bahwa dalam diri mereka terdapat kekuatan dahsyat yang dapat ditumbuhkembangkan lebih lanjut. Disinilah perlunya manusia itu memotivasi diri untuk berkembang dan berprestasi.
            Motivasi merupakan upaya penggunaan hasrat yang paling dalam untuk mencapai sasaran, membantu inisiatif, bertindak efektif, dan bertahan dalam menghadapi kegagalan. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha keras dan penuh kreativitas dalam mencapai sasaran. Dalam diri mereka akan timbul inisiatif untuk mencari jalan atau cara berupa tindakan untuk mencapai sasaran dengan efektif dan efisien. Mereka yang memiliki motivasi tinggi tidak mudah goyang  hanya oleh angin sepoi-sepoi. Bahkan mereka mampu berdiri tegak dalam menghadapi kegagalan.
Motif,  konon berasal dari kata movere (B. Latin) yang berarti bergerak. Kemudian kata motivasi ini berarti usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya (Kamus Besar Bahasa Indonesia,     :593).
Istilah tersebut dalam penggunaannya sering dikaitkan dengan faktor yang menyebabkan timbulnya suatu gerakan. Atkinson mengartikan motif sebagai individu untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, maka motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua gerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu. Maka  dapat dikatakan bahwa motivasi sama dengan needs dalam bahasa Inggris yang berarti sesuatu dalam diri manusia untuk berbuat menuju suatu tujuan.

Motivasi dan Prestasi

 Motivasi sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Dengan motivasi tinggi, orang akan bergairah dalam hidup dan kehidupan mereka. Sebaliknya orang yang motivasinya rendah, seolah-olah hidup ini tidak menggairahkan.

Mereka yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya untuk berkompetisi, berusaha menjadi yang terdepan, atau berusaha untuk menjadi orang pertama dalam bidang-bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut dengan achievement motivation atau needs for ahievement.
Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran dan berusaha untuk melebihi orang lain. Oleh karena itu motif berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan materi, tetapi dapat diukur dengan ukuran keberhasilan kompetisi itu sendiri. Kompetisi ini tidak harus dengan prestasi orang lain, tetapi bisa juga diukur  dengan prestasi sendiri sebagai ukuran keunggulan/standard of excellence. Atletik lari misalnya, ia  selalu berusaha memperbaiki prestasi diri meskipun prestasi tertinggi telah di tangannya.
Disamping itu, dengan motivasi tinggi orang akan terdorong untuk berani meskipun tadinya takut. Dalam Perang Badr misalnya, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam saat itu  berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang melawan orang-orang kafir. Saat itu jumlah umat Islam hanya sepertiga yakni sekitar 300 orang dari jumlah orang-orang kafir yakni sekitar 1.000 orang. Berkat pertolongan Allah dan motivasi tinggi toh jumlah yang kecil bisa mengalahkan jumlah yang banyak.
Sebaliknya dalam peristiwa Perang Uhud, umat Islam menderita kekalahan. Hal ini disebabkan karena sebagian kelompok orang Islam tidak mau mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW dan disebabkan motivasi perang karena materi (harta benda). Maka umat Islam saat itu menderita kekalahan. Malah dalam suatu kisah dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW patah giginya sebagai salah satu akibat perang tersebut.
Pada masa pemerintahan Umar ibn Khattab r.a. terjadilah peperangan antara umat Islam melawan orang-orang kafir Persia. Saat itu sang khalifah berhasil mengumpulkan sekitar 14.000 pasukan sabilillah. Peristiwa yang terjadi pada tahun ke 14 hijriyah itu juga diikuti oleh Khansa’ binti Amran dan keempat anaknya yang kesemuanya laki-laki. Khansa’ adalah seorang janda dan penyair terkenal sehingga kata-kata hariannya bernada syair dan berisi fatwa-fatwa berharga.
Sebelum maju ke medan perang, Khansa’ memberikan motivasi dan semangat kepada ke empat putranya itu. “Wahai anak-anakku, kamu sekalian telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kamu sekalian adalah putra-putra dari seorang laki-laki dan wanita. Aku tidak pernah menghianati ayahmu. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan saudaramu yang lain. Aku tidak pernah merendahkan keturunanmu. Aku juga tidak pernah mengubah persahabatan  kamu. Kamu telah mengerti pahala yang telah disediakan Allah untuk kaum muslimin yang memerangi
kaum kafir. Ketahuilah, bahwa kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang fana,”. Kemudian Khansa’ membacakan ayat-ayat Alquran :”Wahai orang-orang yang beriman . sabarlah dan sempurnakan kesabaran itu.Teguhkanlah kedudukanmu, dan patuhlah kepada Allah, semoga menjadi orang yang beruntung (Q.S. Ali Imran: 200).
Kemudian beliau melanjutkan nasihatnya :”Kalau kalian bangun esok pagi dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang melawan musuh-musuh Allah. Gunakan semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah .Apabila kamu melihat api peperangan semakin berkobar, maka masuklah ke  tengah-tengah kobaran api pertempuran itu. Maka raihlah puncak kobaran perang itu, semoga engkau mendapat kejayaan dan balasan di kampung yang abadi kelak”. Mendengar nasehat ibunya yang bijak itu, keempat anak itu maju perang dengan semangat yang menyala-nyala. Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan itu, keempat bersaudara itu saling memotivasi dalam memperjuangkan kalimat-kalimat Allah SWT. Mereka bertambah semangat ketika melihat pedang mengkilat. Tekad merekapun semakin kuat ketika melihat darah muncrat. Merekapun menggebu-gebu ketika  melihat mayat-mayat terkapar beku membisu.
Setelah perang usai, orang Persia kalah dan umat Islam mendapatkan kemenangan, lalu dilakukan penghitungan berapa pasukan umat Islam yang gugur sebagai syuhada’ saat itu. Setelah dilakukan penghitungan secara cermat, ternyata keempat putra Khansa’ itu gugur di medan perang membela Islam.  Begitu mendengar kabar bahwa  putra-putranya itu gugur, Khansa’ tetap tenang dan tidak shock. Beliaupun berdo’a “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka. Aku mengharapkan dari Tuhanku agar Dia mengumpulkan  aku dengan mereka di tempat tinggal yang abadi dengan rahmatNYa”. Dari peristiwa itu, beliau lebih dikenal dengan Khansa’ binti Amru Ummu Syahid.
Orang-orang yang bermotivasi tinggi akan maju selangkah dari orang lain. Mereka ini biasanya memiliki ciri khas seperti ambisius, kerja keras, kreatif,  berani bersaing, tekun dalam peningkatan kedudukan sosial, dan menghargai produktivitas. Sebaliknya, orang yang achiemenet motivationnya rendah, maka orang ini kurang menghargai produktivitas, kurang kreatif, apatis, lesu darah, dan tak punya tujuan yang jelas. Maka dapat dikatakan bahwa penakut itu mati seribu .  kali dan pemberani itu hanya mati sekali. Penakut sebelum mati beneran, pada hakekatnya sudah mati. Sebab mereka tidak mampu berbuat sesuatu dan berarti tidak akan mampu merubah.
Soichiro Honda (Pendiri Honda) yang dulu miskin, kini namanya melegenda. Dengan motivasi tinggi, anak seorang pandai besi ini bekerja keras untuk merubah keadaan (kemiskinan) menjadi keberhasilan. Dulu, saking miskinnya, Soichiro Honda sering memakai ikat pinggang ibunya. Sebab ayahnya tidak kuat untuk membelikan ikat pinggang padanya.
Konon di waktu kecil prestasinya rendah. Kira-kira NEMnya rendah, sehingga tidak pernah menduduki ranking. Bahkan ia sering membolos. Makanya banyak nilai matapelajarannya yang jelek.Untuk membantu keuangan orang tuanya, ia bekerja sebagai pengasuh bayi dengan bayaran 5 yen sebulan. Bahkan pernah bekerja sebagai tukang ojek motor untuk sekedar membeli beras.
Dengan motivasi tinggi,kegigihan, dan keuletannya, Honda yang dulu sebagai anak nakal kini menjadi konglomerat dan dihormati di Jepang. Jerih payahnya dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.      
Motivasi Star Performance
Orang-orang yang memiliki motivasi tinggi ini oleh Goleman disebut sebagai star performance. Mereka ini biasanya memiliki dorongan berprestasi, komitmen tinggi, berinisiatif, dan selalu optimis.

Dorongan Berprestasi

Kata Jim Ryan “Motivasi  merupakan sesuatu yang membuat anda mulai melangkah. Sedangkan kebiasaan adalah apa yang membuat anda terus melangkah/motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going. Dorongan ingin berprestasi inilah yang membedakan antara orang yang berani dan orang yang takut melangkah. Pemberani selalu siap menghadapi kegagalan dan siap menang. Penakut takut gagal dan selalu menerima menjadi orang yang kalah dan pasrah sebagai warga yang terpinggirkan . Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha mencari keunggulan meskipun standar keunggulan itu dirinya sendiri  
Mereka yang memiliki dorongan berprestasi ini biasanya memiliki kecakapan:
a. Berorientasi pada produk dan bukan sekedar mengejar status
                  b. Menyukai tantangan dan berani mengambil resiko
                  c. Memanfaatkan informasi dalam pengambilan keputusan
                  d. Terus berusaha meningkatkan kinerja

            Orang-orang yang ingin berprestasi tidak mudah putus asa bila mengalami kegagalan. Dengan kegagalan, dia mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Otaknya terasah untuk mencari solusi atas kegagalan itu. Dengan keberanian dan kreativitas tinggi, orang-orang semcam ini mencapai keberhasilan meskipun mungkin saja prestasi sekolahnya rendah. Dengan mengasah kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, maupun kreativitas akhirnya toh menjadi orang yang berhasil. Henry Ford si raja mobil itu pernah mengalami kebangkrutan lima kali dalam usahanya itu.


                                                           

Lasa Hs.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Kamis, 28 September 2017

LAGI-LAGI PLAGIASI

Masalah plagiasi kini muncul kembali ke permukaan dan menjadi pembicaraan umum. Plagiasi adalah tindakan menjiplak ide, gagasan, atau karya orang lain untuk diakui sebagai karya sendiri atau menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Dengan tindakan ini dapat menimbulkan asumsi yang salah mengenai asal muasal dari suatu ide, gagasan, atau karya (Soelistyo, 2011: 17).

Plagiasi merupakan kejahatan akademik. Sebab pelaku plagiasi melakukan ketidakjujuran dalam pengutipan atau mengaku karya orang lain sebagai karyanya. Kejahatan akademik ini justru terjadi di kalangan akademik. Salah satu efek plagiasi ini akan menurunkan kredibilitas seseorang dan bisa  mengurangi citra suatu lembaga

Perilaku yang tak terpuji ini terjadi ada kemungkinan disebabkan adanya budaya pintas dalam kehidupan kita, memenuhi angka kredit, pengejaran jabatan setelah lulus (anggota dewan, walikota/bupati, gubernur), dan mengejar tunjangan yang tinggi

Dalam rangka mencegah pelanggaran etika akademik ini, Menteri Pendidikan Nasional RI mengeluarkan Keputusan Nomor: 17 Tahun 2010. Pada pasal 1 ayat 1 peraturan tersebut dijelaskan bahwa   plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memeroleh atau mencoba memeroleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Nah, saking hati-hatinya terhadap plagiasi ini, banyak para ilmuwan yang takut menulis buku dan takut menulis artikel ilmiah

Memang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI tersebut pasal 12 dijelaskan bahwa apabila dosen/peneliti/tenaga kependidikan terbukti melakukan plagiasi, maka akan dikenakan sanksi secara berurutan ;

a). teguran;
b). peringatan tertulis;
c). penundaan pemberian hak dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
d). penurunan pangkat dan jabatan akademik/fungsional;
e). pencabutan hak untuk diusulkan sebagai guru besar/profesor/ahli peneliti utama bagi
     yang memenuhi syarat;
f). pemberhentian dengan hormat dari status sebagai dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
g). pemberhentian tidak dengan hormat dari status dosen/peneliti/tenaga kependidikan;
h). pembatalan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

Di era keterbukaan ini sudah saatnya kita share informasi ilmiah seperti repositori. Dengan keterbukaan ini akan mudah dan cepat diketahui siapa yang melakukan plagiasi, karya siapa yang diplagiat, kualitas karya akademik, dan siapa yang membimbing karya akademik yang tidak cermat, bahkan asal-asalan. Kemudian untuk mengantisipasi perilaku plagiasi, sebaiknya dicek dulu sebelum disharesecara terbuka/full text. Kini sudah banyak aplikasi deteksi plagiasi. Hal ini tergantung pada kebijakan masing-masing lembaga. Namun yang perlu kita sadari adalah apalah artinya hasil pemikiran, penelitian, dan penemuan yang konon menghabiskan sekian milyar itu kalau hanya menghasilkan kredit dan uang untuk membayar kredit. Dimana letak kemanfaatan karya akademik yang katanya bernilai suma cumlaude itu
Lasa
Perpustakaan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.  

Selasa, 26 September 2017

Kunci Bahagia

Kunci bahagia yang sederhana adalah bersyukur. Semua orang mampu dalam sekedar  mengucapkan syukur, baik untuk mengingatkan sesama manusia maupun berusaha menanamkan pada diri sendiri. Namun belum banyak orang yang mengetahui bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur secara “penuh”. Syukur merupakan rasa ungkapan rasa terima kasih kita kepada Allah SWT atas semua kenikmatan yang telah diberikan kepada kita yang dapat diungkapkan melalui tiga hal, yaitu lisan, anggota badan, dan hati.
1)    Melalui lisan. Wujud rasa syukur yang diungkapkan melalui lisan yaitu dengan cara kita memuji Allah dengan berdzikir kepada-Nya. Mengucap tahmid (Alhamdulillah) ketika kita diberi sesuatu oleh-Nya, mengucap istighfar (Astaghfirullah) ketika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan, mengucapkan takbir (Allahuakbar) ketika kita melihat atau merasakan kebesaran Allah, dan lain sebagainya.
2)   Melalui anggota badan. Wujud syukur kita melalui anggota badan yaitu dengan cara kita mempergunakan rejeki yang diberikan Allah untuk membantu antar sesama manusia dan digunakan di jalan Allah seperti infaq, shodaqoh, zakat, dan lain sebagainya. Selain itu, wujud syukur melalui anggota badan dengan cara kita senantiasa menggunakan anggota badan untuk meningkatkan ibadah kita lebih baik seperti meningkatkan ibadah solat kita, mengaji, menghadiri pengajian/majelis taklim, dan lain sebagainya. Dari yang semula belum pernah menjadi pernah, jarang menjadi sering, dan sering menjadi selalu.  
3)   Melalui hati. Wujud syukur kita melalui hati yaitu dengan cara kita meyakini dalam hati bahwa semua yang kita terima adalah semata-mata dari Allah SWT. Dengan begitu kita bisa meningkatkan keimanan, ketaqwaan, keyakinan, dan kecintaan kita kepada Allah SWT. 
Sesungguhnya syukur hakiki harus mencakup tiga hal yang telah dijelaskan di atas, yakni syukur yang diwujudkan melalui lisan, anggota badan, dan hati. Al-Junaid mengatakan, “Syukur adalah jika engkau menyadari bahwa dirimu tidak layak mendapatkan nikmat yang amat berharga.”. Sesungguhnya pandangan ini lebih mengarah kepada syukur dengan hati secara khusus.

Lalu apa saja manfaatnya bersyukur? Salah satunya adalah dengan kita bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambah kenikmatan kepada hambaNya seperti dalam Q.S. Ibrahim ayat 7 : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”. Seperti yang dijelaskan dalam surat tersebut, ketika kita selalu bersyukur atas apapun ukuran dan bentuk nikmat pemberian dari-Nya, maka Allah akan melebihkan dan menambahkan nikmatnya kepada kita, serta kita tidak akan mendapat siksaan atas azab yang diberikan oleh-Nya.


Aidilla Qurotianti
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Senin, 25 September 2017

BEKERJA KERAS MENGGAPAI KESUKSESAN

Setiap orang pasti ingin maju daan berhasil dalam kehidupan mereka. Hari ini diusahakan lebih baik dari kemarin. Besok harus lebih maju dari sekarang. Sedangkan untuk mencapai keberhasilan orang harus bekerja keras, ulet, rajin, dan sabar. Artinya harus berusaha dan tidak malas.
            Kemajuan dan keberhasilan seseorang akan tercapai antara lain karena memahami makna hidup. Hidup adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Anugerah itu harus disyukuri antara lain dengan melakukan dan menghaslkan sesuatu yang positif. Salah satu pilihan untuk menghasilkan yang positif adalah bekerja. Bekerja memiliki banyak makna dan bukan sekedar mencari uang. Bekerja dapat dinilai sebagai bentuk syukur dan ibadah kepada Allah. Sebab dengan melakukan suatu pekerjaan berarti kita memanfaatan potensi diri untuk orang lain.  
Putaran otak, gerakan tangan,dan langkah kaki untuk menggapai kemanfaatan itu sebenarnya merupakan langkah positif meskipun belum menghasilkan. Agama apapun tidak mengajarkan pengikut-pengikutnya untuk bermalas-malasan.Pada umumnya agama-agama dunia menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja. Sebab dengan melakukan pekerjaan atau bekerja akan menaikkan status seseorang dan tidak menjadi beban orang lain.
Suatu ketika Rasulullah Saw kedatangan seorang laki-laki yang mengadukan kefakirannya. Mendengar keluhan itu, lalu Rasulullah Saw memberikan 2 (dua) dirham dan bersabda :”Apakah kamu memiliki sesuatu ?. “Tidak wahai Rasulullah Saw”, jawab orang itu. Lalu orang itu diberi uang sebanyak 2 (dua) dirham lagi oleh Rasulullah Saw dan beliau sambil bersabda:”Terimalah uang ini. Belilah makanan sekedarnya untuk kamu dan keluargamu. Sisanya cobalah belikan kampak. Dengan kampak itu engkau mencari kayu di hutan lalu juallah kayu itu untuk memenuhi kebutuhanmu yang lain “. Setelah 15 (lima belas) hari dari pertemuan itu, lelaki itu sowan kepada Nabi Muhammad Saw dan matur :”Wahai Rasulullah, Alhamdulillah sungguh Allah telah memberikan berkah kepada kami sekeluarga sebagaimana Rasul perintahkan kepada kami. Alhamdulillah kini kami telah mengumpulkan uang sebanyak 10 (sepuluh) dirham dari penjualan kayu yang kami peroleh dari hutan. Uang yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli makanan untuk anak isteri saya, dan yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli pakaian mereka:. Mendengar cerita ini, Rasulullah Saw nampak berkenan lalu bersabda :”Hal itu lebih baik kamu lakukan daripada kamu meminta-minta kepada orang lain”.
Orang-orang yang bekerja dalam bidangnya dengan baik akan memberikan makna dalam kehidupan dan namanya akan dikenang sepanjang masa. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilakukaan dengan tekun dan baik, maka akan memberikan makna tersendiri. Dalam hal ini Martin Luther Jr.pernah mengatakan :” Kalau anda terpanggil menjadi tukang sapu jalan, maka sapulah jalan secara baik seperti Michelangelo melukis atau Bethoven mengubah musik. Bahkan seperti Shakespeare menulis sajak. Sapulah jalan itu sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak untuk mengatakan :”Di sini pernah hidup seorang tukang sapu yang hebat yang sangat baik kerjanya”.
Keberhasilan tidak saja datang dari langit dan tidak otomatis tumbuh dari bumi. Keberuntungan tidak bisa dicari di Gunung Kawi atau menunggu tokek berbunyi. Orang sukses adalah orang yang berusaha, mampu mengatasi kendala, dan memeroleh sesuatu yang diinginkan. Pemalas adalah orang yang enggan bekerja, takut gagal, dan sedikit-sedikit mana uangnya.
Orang yang berusaha adalah orang yang mampu memaknai hidup. Mereka yang malas tidak paham apa itu makna hidup. Bekerja itu merupakan salah satu upaya memberikan makna dalam kehidupan.
Apabila orang memahami bahwa bekerja itu merupakaan makna hidup, maka dia akan merasa bahagia dalam melaksanakan pekerjaan/tugas. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilaksanakan dengan baik dan senang, maka akan mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan.
Untuk memeroleh hasil yang diharapkan, orang harus berani berkompetisi dalam berebut kesempatan secara elegan. Bukan sekedar kasak kusuk, kalau cuma begitu aku pasti lebih baik. Oleh karena itu bangun pagi lalu melakukan aktivitas  merupakan salah satu sikap siap untuk berkompetisi. Sebab bangun siang hari, rizkinya sudah dipatuk ayam.
Berkaitan dengan kompetisi dan berebut kesempatan ini, Rasulllah Saw memerintahkan umatnya untuk bangun pagi. Kemudian segera melakukan shalat fajar sebanyak 2 (dua) rekaat yang tentunya dilanjutkan melakukan shalat shubuh.Berkaitan dengan shalat fajar inilah, beliau menyatakan bahwa kebaikan shalat fajar itu lebih baik daripada dunia seisinya. Artinya dengan shalat fajar itu orang akan bangun pagi lalu melakukan kegiatan yang produktif. Pengertian ini bukan berarti bahwa setelah selesai melaksanakan shalat shubuh lalu tidur lagi yang berarti malas-malasan. Nah, berkaitan dengan bermalas-malas inilah suatu ketika Rasulullah Saw menghampiri putrinya Fatimah yang sedang malas-malasan setelah selesai melaksanakan shalat shubuh.Melihat putrinya yang sedang bermalas-malasan itu, beliau menghampirinya sambil menggoyang-goyang tubuh putrinya itu pelahan dan bersabda :” Wahai putriku, bangunlah dan sambutlah rizki Allah dan jangan lalai. Sebab Allah itu membagi-bagi rizki kepada manusia antara terbit fajar sampai matahari terbit” (H.R. Baihaqi).
Kemalasan akan melahirkan penyesalan. Kemalasan membuat orang enggan beranjak, tangan malas bergerak, kaki berat melangkah, pikiran terbelenggu, dan kemauan beku. Kemalasan membuat hidup menjadi redup, langkah mundur, mata tertidur pulas mendengkur. Sikap inilah yang membuat orang atau komunitas ketinggalan dari yang lain. Untuk itu Rasulullah Saw pernah bersabda :”Beberapa hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa umatku yakni besar perut (serakah, tamak, suka makan), terus menerus tidur, dan lemah keyakinan”. (H.R,Daruquthni). Disamping itu, Rasulullah Saw juga mengajarkan do’a yang tentunya harus disertasi usaha. Do’a itu berbunyi :Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal huzni, wa’audzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa’audzu bika minal jubni wal bukhli wa’audzu bika min ghalabatid daini waqahri rijaali”(artinya, Ya Allah, aku berlindung kepadaMU dari kesusahan dan kegelisahan hati, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan kikir. Dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan orang-orang yang jahat.

Lasa Hs.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

PERLUNYA PENGEMBANGAN SISTEM KLASIFIKASI ISLAM

Pada dasarnya sistem klasifikasi menyediakan sederetan daftar nomer kelas atau bisa disebut dengan notasi disertai subjeknya serta berbagai ketentuan yang menyangkut mekanisme pembentukan notasi dan penelusurannya. Daftar notasi dalam sistem klasifikasi disebut dengan bagan klasifikasi. Beberapa bagan klasifikasi yang baik yang pernah berkembang adalah Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification dan Library of Congress Classification (Eryono, 2002: 5.22).
DDC termasuk sistem klasifikasi yang baik karena memenuhi kriteria dan ciri-ciri sebagai bagan klasifikasi yang universal, terperinci dalam pembagian kelas, fleksibel dalam pengembangan kelas, mempunyai susunan yang sistematik dengan notasi yang sederhana, mudah diingat, mempunyai indeks relatif dan mempunyai badan pengawas (Eryono, 2002: 6.1).
Namun demikian sistem ini tidak sepenuhnya mengadopsi kenyataan-kenyataan di Timur dan cenderung mementingkan peradaban dan perkembangan di Barat terutama Amerika dan Kristen. Pada DDC, kelas untuk agama lain misalnya agama Yahudi, Budha, Hindu menempati posisi yang sempit. Terbukti dengan adanya penempatan kelas agama pada kelas 200, sedangkan dalam pembagian kelas yang lain adalah kelas untuk beberapa hal yang berkaitan dengan Kristen, misalnya 220 untuk Alkitab, 230 untuk Teologi Kristen, 240 Moral Kiristen, 250 untuk Gereja Kristen, 260 untuk Teologi Sosial, 270 untuk Sejarah Gereja dan 280 untuk Sekte-Sekte Kristiani. Kelemahan DDC dalam bidang keislaman yaitu adanya keterbatasan dalam subjek keislaman dan hanya menempatkan subjek keislaman pada kelas 297, sedangkan utuk agama lain ditempatkan pada kelas 290 (Lasa Hs, 2009: 163).
Arianto (2006) menjelaskan bahwa kekurangan yang ada pada sistem klasifikasi DDC mendapat tanggapan dari berbagai pihak, baik itu sarjana muslim maupun non-muslim (Barat). Tanggapan non-muslim mengenai hal ini dijelaskan bahwa DDC masih cenderung terhadap Kristiani dan Anglo-Saxon, selain itu meskipun DDC telah digunakan secara luas namun masih belum memenuhi kebutuhan berbagai budaya dan negara lain. Begitupun tanggapan dari sarjana muslim yang menjelaskan bahwa sistem klasifikasi DDC didominasi oleh Barat dalam bidang manajemen informasi sehingga tidak kondusif untuk kelanjutan sudut pandang Muslim. Klasifikasi tersebut hanya berorientasi pada barat baik itu literatur, agama, budaya, adat dan lain sebagainya, sehingga tidak memadai untuk subjek keislaman.
Kelemahan tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap koleksi keislaman yang ada di berbagai perpustakaan karena dalam DDC porsi agama Islam terlampau kecil kelas nya dikarenakan tidak adanya kelas utama dan divisi hanya ada seksi yaitu 297. Oleh karena itu dalam mengatasi kelemahan mengenai klasifikasi Islam ini lembaga pemerintah telah melakukan upaya pengembangan dengan mengadakan perluasan pada notasi 297.
Banyak diantaranya yang telah berusaha mengembangkan klasifikasi Islam ini diantaranya adalah Badan Wakaf Perpustakaan Islam Yogyakarta, Panitia Tahun buku Internasional Indonesia, The Indian Institute of Islamic Studies, Institut Pendidikan Darussalam Gontor, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia, Mc Gill University dan terakhir pengembangan ini dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia yang sekarang menjadi Departemen Agama dengan mengganti notasi 297 menjadi 2X dengan ringkasan bagan klasifikasi nya seperti: 2X0 Islam (Umum)
2X1 Alquran dan Ilmu yang berkaitan
 2X2 Hadits dan Ilmu yang berkaitan
2X3 Aqaid dan Ilmu Kalam
2X4 Fiqih
2X5 Akhlak dan Tasawuf
2X6 Sosial dan Budaya
2X7 Filsafat dan Perkembangan
2X8 Aliran dan Sekte 2X9 Sejarah Islam dan Biografi
Secara sistematika ringkasan klasifikasi Islam ini sudah mencakup subjek keilmuan secara rinci, namun pada setiap seksinya ditemukan pembagian subjek yang kurang rinci, sehingga ada beberapa bahan perpustakaan dengan subjek tertentu tidak bisa ditempatkan pada subjek manapun. Oleh karena itu perlunya kembali pengembangan sistem klasifikasi islam, agar keseluruhan subjek yang terdapat dalam notasi keislaman dapat lebih terperinci.

Referensi:
Arianto, M Solihin. 2006. “Islamic Knowledge classification Scheme in Islamic Countries’             Libraries” volume 44, no 2. Uin Sunan Kalijaga.
Eryono, Kailani. 1999. Daftar Tajuk Subyek dan Sistem Klasifikasi Islam Adaptasi dan             Perluasan DDC Seksi Islam. Jakarta: Departemen Agama RI.

Lasa Hs.2009. Kamus Kepustakawanan. Yogyakarta: Pustaka Publisher.






Nita Siti Mudawamah
Pustakawan UMY

Minggu, 24 September 2017

KREATIFKAH ANDA ?


Dalam pengembangan diri, profesi, dan kepustakawanan diperlukan kreatifitas. Yakni usaha menciptakan sesuatu yang baru dan belum pernah terjadi atau belum pernah ada. Sesuatu ini bisa berupa barang, kegiatan, keadaan, atau jasa. Oleh karena itu dalam pengembangan perpustakaan diperlukan orang-orang yang kreatif. Adapun ciri-ciri orang kreatif antara lain:
1.Berinisiatif
             Orang-orang yang berinisiatif  selalu mencari peluang, berusaha memanfaatkan peluang, mengembangkan peluang, bahkan mampu menciptakan peluang. Orang-orang yang berinisiatif biasanya memiliki karakteristik:
a.Siap memanfaatkan peluang
b. Mampu melampaui batas, persyaratan, dan standar yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, orang ini mampu melebihi  rata-rata orang lain.
c.Dalam kondisi tertentu berani melawan arus dan sudah diperhitungkan tidak akan terbawa arus
d. Berani melakukan petualangan dan berkorban untuk orang lain
e. Mengajak orang lain untuk memperbaiki langkah-langkah yang selama ini dianggap lemah, kurang,dan  jelek
f. Siap menghadapi celoteh, kritikan, cemoohan orang lain
             Orang yang memiliki inisiatif  biasanya berani menanggung resiko. Orang-orang seperti ini akan memeroleh keberhasilan tersendiri. Sementara itu, orang yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah, pasrah, dan kalah sebelum bersaing.
             Suatu ketika Rasulullah Saw berkumpul dengan para sahabat. Beliau berkisah tentanga tiga orang yang masuk masjid untuk mengikuti shalat jama’ah. Kebetulan tiga orang ini datang terlambat dan masjid sudah penuh jama’ah. Melihat masjid sudah penuh jama’ah , maka orang pertama pulang dan shalat sendirian/munfarid. Orang kedua langsung masuk dan mendapat tempat shalat jama’ah di serambi. Sementara  itu, orang ketiga menerobos shaf-shaf jama’ah yang masih menunggu iqomah. Orang yang berinisiatif ini mendapatkan tempat di shaf paling depan. Memperhatikan kejadian ini, Rasulullah Saw memberikan komentar bahwa orang pertama adalah gambaran orang yang putus asa.Orang kedua merupakan gambaran tipe orang yang malu-malu/tidak berani. Kemudian orang ketiga dikatakannya sebagai tipe orang yang berinisiatif, penuh harapan, bersemangat, dan pantang menyerah. Maka tipe orang ke tiga inilah akan memeroleh apa yang diinginkan.
2.Terdorong untuk berprestasi
             Mereka yang kreatif  biasanya memiliki motivasi tinggi. Mereka ini selalu memacu dirinya untuk berkompetisi, menjadi orang pertama/terdepan dalam bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut achievment motivation. Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran, mengatasi kesulitan, dan berusaha untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu motif   berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan tidak harus diukur dengan materi, kedudukan, maupun jabatan. Keberhasilan dapat diukur dengan keberhasilan kompetisi itu sendiri sebagai ukuran keunggulan (standard of excelence
3.Optimis berhasil
             Kata Teddy Rooselevelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “ Seluruh sumber daya yang anda perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda. Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong orang untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab dalam diri manusia telah disiapkan penangkal kegagalan.
             Optimis adalah kegigihan memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak akan gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya telah tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua pilihan.Yakni keberhasilan atau kegagalan. Apabila gagal, dia siap untuk menerima kegagalan dan berusaha untuk bangkit kembali. Kemudian apabila usaha itu berhasil, inilah yang diharapkan dan berusaha untuk mempertahankannya.
Orang-orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan tekun dalam mencapai tujuan, berusaha dengan harapan sukses, dan berpandangan bahwa segala sesuatu itu pasti ada solusinya.
4.Mandiri
             Sikap mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang kemandiriaannya kuat, dia akan memiliki inisiatif, mampu mengatasi kesulitan, dan percaya diri.
             Kemandirian seseorang dapat dilihat dari aspek emosi,aspek ekonomi, aspek intelektual, dan aspek sosial (T.Havighurst, 1972). Dari aspek emosi, orang dikatakan mandiri apabila mampu mengontrol emosi diri dan tidak terpancing oleh emosi maupun kemarahan orang lain. Dia tidak cepat gembira apabila mendapatkan kegembiraan. Orang ini juga tidak cepat sedih apabila menerima penderitaan. Semua itu disikapi wajar-wajar saja. Dari segi ekonomi, orang dapat dikatakan mandiri apabila tidak lagi menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada orang lain. Orang ini tidak mau merepotkan orang lain termasuk pada anak-anaknya sendiri. Kemudian orang dikatakan mandiri secara intelektual apabila betul-betul mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin bahwa setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan setiap masalah ada solusinya. Secara sosial, orang dikatakan mandiri apabila orang itu mampu mengadakan interaksi dengan orang lain tanpa menunggu reaksi dari orang lain.
             Orang yang mandiri akan percaya diri dan mudah bergaul dengan siapapun. Dengan modal ini, orang akan dikenal masyarakat secara luas. Dari sinillah dia bisa mengekspresikan diri dan mengembangkan diri, serta berani bersaing secara terbuka.
5.Berani menghadapi kegagalan
             Seperti yang pernah dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa yang penting bukan kegagalan itu yang ditangisi, tetapi bagaimana orang itu bangkit dan bangkit setelah mengalami kegagalan. Kata-kata ini dilontarkan oleh anak manusia yang berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 7 tahun, Lincoln dan keluarganya diusir dari rumahnya. Pada umur 22 tahun ia bekerja dan tidak begitu lama ia keluar . Pada usianya yang ke 34 dan 39 dia mencalonkan diri sebagaai anggota Kongress tetapi gagal . Penderitaan ini masih dicoba dengan meninggalnya tiga orang anaknya.
             Semangat yang membara tetap menyala meskipun berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 45 tahun ia mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai calon Presiden Amerika pada usianya yang ke 47, dan baru berhasil menjadi Presiden negara adikuasa itu di usianya yang ke 51.
.
Lasa Hs. UMY